Lagu ini rilis di tahun 2006, tepat 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kuliah, meskipun sudah mulai beralih genre dari Emo ke music pop jazz, namun lagu ini langsung terasa dekat dan familiar di telinga. Yes ini adalah salah satu lagu teranyar Dashboard Confessional yang berjudul “Don’t wait” dari album Dusk and Summer.
Saya mau mengutip lirik dari reffnya dan kita coba membahas dari perspektif saya pribadi
“Don’t wait, don’t wait
The road is now a sudden sea
And suddenly, you’re deep enough
To lay your armor down “
Kurang lebih begini : janganlah kamu menunggu melakukan atau mengatakan sesuatu, karena waktu bisa bergulir cepat dan tanpa kamu sadari situasi sudah semakin pelik, emosi sudah semakin dalam dan keyakinan negatif sudah semakin tebal. Di momen itu kamu seakan-akan sudah tenggelam dan sudah sangat sulit untuk bisa menurunkan ego-mu.
Kata armor saya artikan sebagai ego yang berisi aturan-aturan pertahanan diri seseorang untuk melindungi core belief. Aturan ini menjadi sangat kaku, sehingga semakin memicu emosi yang intens.
Misalnya, tanpa sadar seorang suami tenggelam dalam aturan “suami harus selalu didengarkan dan istri tidak boleh membantah”. Ia menjadi sangat keras dan emosional terhadap istrinya, dan sama sekali tidak bisa diajak diskusi. Bahkan puncaknya ia bisa tega main tangan. Sampai akhirnya dia kehilangan orang yang sebenarnya ia cintai. Sebaliknya, seorang istri mungkin punya aturan “Masalah harus segera diselesaikan. Ekspresif adalah tanda cinta, diam berarti tidak peduli. Keputusan harus tepat tidak boleh ada salah”. Ketika ia semakin tenggelam dalam aturannya, ia akan terlihat sangat menuntut kepada suami. Suami tidak dapat ruang untuk mengambil keputusan, dibombardir dengan kritik. Sampai akhirnya ia dapati suaminya lebih pasif, apatis dan indecisive di rumah.
Sebenarnya masing-masing dari kita tahu, bahwa aturan-aturan ini begitu irasional dan kita harus lebih fleksibel. Misalnya, suami mau mendengarkan pendapat istri atau istri tidak menuntut terlalu banyak ke suami. Namun apa daya, gejolak emosi begitu kuat, sulit sekali keluar dari pakem aturan yang sudah menahun, belasan bahkan puluhan tahun ada.
Disini, frase kata “don’t wait”, juga mungkin diartikan untuk segera cari bantuan di luar hubungan, jika tidak mampu melakukannya sendiri..!! Semisal datanglah ke psikolog atau konselor pernikahan.. Nice one Chris Carrabba..! Visioner sekalee.
Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.
Leave a Reply