Teori model kognitif CBT = Situasi → Pikiran otomatis negatif → Reaksi (emosi, perilaku dan fisiologis). Reaksi kita dipengaruhi oleh apa yang muncul secara otomatis dalam pikiran kita.
Penggunaan istilah pikiran otomatis negatif atau “negative automatic thoughts” menurut saya sangatlah tepat. Pikiran itu muncul begitu cepat tanpa kita sengaja dorong untuk muncul. Bunyi dan isinya pun di luar kendali kita. Bisa sangat negatif, kasar, menjatuhkan, atau provokatif. Kemunculannya akan memicu perasaan tidak nyaman.
Tugas awal adalah “menangkap” si pikiran otomatis tersebut. Saking otomatisnya kita tidak sadar bahwa ada pikiran yang muncul. Cara paling mudah adalah dengan bertanya “apa yang muncul dalam pikiranku sekarang ?” atau tambahkan model kognitif disitu, “bukan situasi yang buat aku emosi tapi pikiranku sendiri, sekarang apa yang kupikirkan ?”.
Namun, dalam ruang terapi, terkadang sulit sekali untuk capture pikiran otomatis. Psikolog CBT biasanya akan menggunakan berbagai cara kreatif untuk bisa membantu identifikasi. Terapis bisa memodifikasi pilihan kata, sehingga lebih mudah memantik pemahaman klien. Misal mengganti penggunaan kata “pikiran” menjadi “mindset”, “benak”, “kata hati”. Atau Terapis dapat memulai dengan fokus ke emosi terlebih dahulu. Mulai dari menggali emosi apa yang muncul, seberapa intens dan apakah terasa di bagian tubuh tertentu.
Dibagian inilah elemen kreatif dari terapis di uji. Se-terstruktur-strukturnya CBT, tetap butuh seni dalam melakukannya.
Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.
Leave a Reply